Masih Ada Cerita yang Bisa Dibagi
Malam dan Esok Pagi
Jam berdentang sepuluh kali malam itu saat tak sengaja kita bertegur sapa.
Sembari menghabiskan waktu, aku akan bercerita untukmu.
Lalu kisah, demi kisah, demi kisah,
melewati detik, demi detik, demi detik.
Sekarang tak masalah sekalipun aku harus menunggu
sedetik, seratus detik, sejuta detik
sampai tiba waktu kuucapkan: “Selamat Pagi.”
Hujan
Tak ada yang istimewa pada bulir air yang berlomba menghantam aspal.
Maka kita menolak keluar dan memilih tetap di ruang itu,
Mungkin saja tirai hujan itu memang sengaja,
supaya ceritamu teredam dan tetap menjadi rahasia.
Jika kau tak takut kuyup, kita tembus hujan itu.
Kubawa kau ke ruang ceritaku.
Lalu entah mengapa hujan tampak begitu hangat dan merindu.
Sunyi
Sampai kita pada ruang lain.
Tak ada sedikitpun suara, dan justru tentang sunyi itu kau mulai cerita,
sampai akhirnya kau pun lelah dan terlelap.
Dan barulah aku mengerti apa yang kaumaksud dengan melodi sunyi.
Hanya ada getar nafas dan degup jantungmu, boleh kusebut itu melodi?
Wajahmu sekaligus menjelma mimpi kala kuterjaga.
Aku tak perlu lagi terlelap, dan kau tetap kudekap.
Aku dan Si Pencerita
Ingat saat aku tak mampu membalas kata cintamu?
Kusisipkan kata itu diantara lenguh yang berbalas,
biar tak kentara. Karena sebetulnya aku malu untuk mengusik hatimu.
Tapi kau Si Pencerita, dan aku salah satu ceritamu;
maka aku tak bisa menipumu,
percuma, kau pasti tau jika aku rindu.
Maka sekalian saja kupaparkan, sejelas mungkin
hingga kau jengkel karena tak ada alasan untuk menyela.
Benar memang hanya kau yang kuingin, sekalipun tak pernah utuh.
Sebab cerita-ceritamu sudah cukup mengisi
ruang kosong yang kini lengang sepi.
Tapi bagiku tak pernah cukup, akan selalu kurang.
Itu katamu, dan sungguh aku ingin benar mengerti.
Mungkin belum cukup banyak cerita yang bisa dibagi?
Aku menatap, binar matamu lindap.
Dan sepertinya aku harus menunggu kau mencari cerita lagi
Sendiri.
(Untuk pembuat cerita dan seorang kekasih)
Bekasi, 16 Oktober 2010